Rabu, 30 November 2016

salah paham

Pada suatu hari, hiduplah seekor Kelinci di suatu taman. Ia hidup bersama-sama dengan Kucing, Kucing adalah sahabatnya yang sangat setia.
“Mengapa aku sering terkena penyakit seperti ini?” Ucap si kelinci sambil menyelimuti dirinya di kamarnya, “Kucing!” Panggil Kelinci melompat ke arah Kucing. “Apa kita akan bermain lagi?” Tanya Kelinci “Tentu saja, sebaiknya kita segera bermain!” Ajak Kucing, Mereka dengan senang kembali bermain bersama-sama. “Hai, Kucing! Mengapa kau tidak mengejarku lagi?” Tanya si Kelinci “Aku sangat lelah, Kelinci. Maafkan aku! Mungkin lain kali saja,” Kata Kucing. Kelinci yang sedih segera meninggalkan Kucing sendiri, Kelinci memakan wortel yang sudah tersedia untuk dirinya.
Tak lama, si Kelinci mendengar tawa bahagia dari beberapa binatang. Kelinci yang penasaran segera menghampiri arah suara itu, “Wah seru sekali!” Seru Kucing berlompat-lompat dengan binatang yang lainnya. “Kucing! Mengapa kau bermain dengan yang lain?” Tanya Kelinci menghampiri Kucing, sang Kucing pun memberhentikan permainannya.
“Aku ingin bermain dengan mereka, Kelinci.” Ujar Kucing “Mulai sekarang aku tidak akan bermain denganmu lagi,” Kelinci berucap dan segera meninggalkan taman, ia terus bersedih dan marah atas perbuatan Kucing.
Keesokan harinya, Kelinci yang masih sakit terus menerus batuk dan bersin. “Seandainya, Kucing di sini, ia tentu akan membantuku,” Kata Kelinci. “Tapi, aku yakin aku dapat melakukannya sendiri,” Dengan penuh semangat Kelinci merasa dirinya dapat menyelesaikan semua masalah sendiri. Ketukan pintu terdengar di telinga Kelinci, dengan cepat Kelinci membukakan pintu untuk tamunya. “Hei, Kelinci! Kau harus mencari kayu di tebing, kau tidak bisa terus bersantai dalam pekerjaanmu” Ucap sang Kupu-kupu “Baiklah, Kupu-kupu,” Kata si Kelinci bergegas menuju tebing.
“Apakah aku dapat melompat sejauh itu? Jika Kucing disini dia akan membantuku,” Ujar Kelinci, lagi-lagi Kelinci berpendapat semua dapat ia lakukan sendiri “Aku akan melakukannya sendiri!” Ucap sang Kelinci, ia melompat menuju tebing yang lebih rendah dari sebelumnya. Namun, ia tidak bisa sehingga ia memejamkan matanya ketakutan.
Saat ia membuka matanya ia mendapati dirinya masih di tebing, “Hai, Kelinci! Peganglah erat tanganku dan menaiklah ke tebing lagi!” Ujar Kucing memegang Kelinci. Kelinci pun menuruti ucapan Kucing, akhirnya Kelinci pun berhasil menaik. “Sedang apa kau disana, Temanku?” tanya Kucing “Aku yakin aku dapat bekerja sendiri,” Kata Kelinci “Oh, Kelinci! Aku bersedia membantumu kapanpun,” Ujar Kucing “Aku rasa tidak! kau bermain dengan yang lain sedangkan jika bersamaku kau selalu mengatakan jika kau lelah,” Kata Kelinci tidak memandang Kucing “Temanku! aku mengatakan lelah karena kau sedang sakit, aku ingin kau beristirahat. Jika aku tidak mengatakan aku lelah, kau tidak akan berhenti bermain.” Kata Kucing “Benarkah?” Tanya Kelinci “Ya, temanku!” Kata Kucing “Maafkan aku atas kesalahpahamanku, Kucing!” Ujar Kelinci memeluk Kucing.
“Lain kali kau harus berfikir positif tentang seseorang, dan kau tidak boleh berbohong pada dirimu jika kau tidak bisa melakukan sesuatu,” Ucap Kucing “Terima kasih banyak, Kucing!” Ujar Kelinci, Mereka pun kembali bermain bersama.

menang kalah itu biasa

“Siapa lagi yang jadi penggeraknya?” Tanya Kak Ajeng. Kak Ajeng adalah KKN (Kuliah Kerja Nyata) berasal dari
UMM (Universitas Muhmuhammadiyah Malang). Kak Ajeng dan teman KKN lainnya datang ke sekolah Shefa, MI Muhammadiyah.
Kelas lima dan empat bermain tebak gaya. Kategorinya perempuan dan laki-laki. 1 kelompok (perempuan) terdiri dari 8 orang. Sedangkan laki-laki, 1 kelompok terdiri dari 6 orang. Sebenarnya, banyak sih laki-laki dan perempuannya (kelas 5 dan 4), tapi, sebagian ikut latihan gerak jalan untuk lomba HUT PGRI. jadi, mereka tak ikut main, deh…
Ellyn, Cherry, Salza, dan Firda mengangkat tangannya. Kak Ajeng memilih Ellyn dan Firda menjadi penggeraknya. Cherry dan Ellyn berada di kelompok 2, sedangkan Salza dan Firda, di kelompok 1, yaitu kelompok Shefa. Kak Ajeng membisikkan gaya apa yang mereka peragakan nanti. “Satu… dua… mulai!” perintah kak Ajeng.
“Aku tahu!” pekik Iis, dari kelompok 2. “Apa?” tanya kak Ajeng pada Iis.
“Belalai gajah!” jawab Iis dengan lantang.
“Benar!. satu poin untuk kelompok 2. Jadi 1-0,” ujar Kak Ajeng. Mereka terus bermain. Sayang, kelompok Shefa belum dapat 1 poin pun. Sedangakan kelompok 2, sudah dapat 5 poin. Kelompok 1 pun tak mau main lagi. “Ih! masa’ kelompok 2 terus yang dapat poin” cetus Firda sebal. “Iya! masa mereka terus sih!” timpal Fifi.
“Sudahlah. Menang kalah itu, kan biasa” Tutur Shefa. Shefa itu anak yang cantik, manis, punya lesung pipit, pintar, baik, sabar, dan masih banyak lagi sifat positifnya. Kekurangannya, dia itu pelupa. Tapi, lupanya itu tidak membuat dia dijerumuskan ke Negatif. “Hai pecundang!” ujar Cherry sombong pada kelompok satu. “Heh! jangan sombong kamu, Cher… baru menang gitu aja, sombongnya dah selangit” sembur Firda galak. Dari mimik wajahnya ia terlihat marah pada cherry.
“Biarin lha! emang masalah buat loe, pecundang. Masa’ nebak gitu aja tak bisa” ejek Rasty, sahabat dekat Cherry. Sifat Cherry itu menular pada Rasty.
Perang mulut antara Firda, Cherry, dan Rasty mulai meruncing. Ellyn, Shefa, Iis, Fifi, Salza dan lainnya berusaha melerai mereka.
“Sudahlah, cher, ras, fir, untuk apa berkelahi kalau tak bisa menyelesaikan masalahnya” kata Shefa bijak, namun lembut. “Benar apa dikatakan Shefa. Apa untungnya berkelahi! Berkelahi membuat rugi, dampak negatif. Kalian mau Indonesia hancur, Heh!” umpat Salza dengan suara yang seperti membentak. Seketika, mereka tak berkelahi dan diam. “Apa kalian mau Indonesia itu negara yang dianggap bodoh!? kita itu penerus generasi Indonesia. Kalau bukan kita yang memajukan Indonesia, siapa lagi?! lihat negara yang sudah maju. Kalau kalian mau negara maju, jangan berkelahi. Indonesia punya semboyan ‘BHINEKA TUNGGAL IKA’ artinya, ‘berbeda-beda tetapi satu jua’. Kita harus melaksanakan semboyan itu jika ingin bangsa kita bangsa yang kuat. Inilah salah satunya sikap yang membuat Indonesia terpecah belah!” nasihat Shefa panjang lebar. Firda merasa menyesal dan Cherry dan Rasty merasa tambah marah pada Shefa. “Ok! 17 agustus nanti ada lomba cerdas cermat. Siapa yang menang ia akan ikut sekota. Jika kamu menang, aku akan taat pada kamu dan temanmu. Sedangkan kalau aku menang, kalian harus tunduk padaku dan Rasty, DEAL” taruh Cherry. Shefa menerimanya. Cherry n’ Rasty pergi meninggalkan Shefa dan temannya.
17 Agustus 2016
Lomba Cerdas Cermat
Shefa sudah siap dengan Secarik kertas putih polos, Corecction pen, Bolpoint warna Hitam cair, dan sebuah buku sebagai alas. Lomba dimulai. Guru memberi soal-soal pada murid. Satu persatu meninggalkan lapangan. 30 menit kemudian, hanya tersisa Shefa, Rasty dan Cherry.
“Soal terakhir, Matematika, 2576 dibulatkan ke ratusan terdekat menjadi…” Shefa menjawab dengan mudah. Karena, matematika pelajaran Favorit Shefa. Cherry dan Rasty, belum menjawab. Karena, setiap pelajaran Matematika, mereka izin ke toilet. Mereka ke toilet sampai jam pelajaran matematika selesai. “Siap tak siap tunjukkan jawabannya!” perintah guru. Shefa segera mengangkat kertasnya agar guru bisa melihat jawabannya. Jawabannya Shefa adalah 2.600. Sedangkan Cherry dan Rasty, belum mengangkat kertasnya. Otomatis, Rasty dan Cherry gugur.
“Pemenang lomba cerdas cermat ini ialah… Putry”
ASHEFA CANTIKA DARI KELAS 5!” teriak guru. Tak menyangka, Shefa bisa menang. Ia lalu lomba sekota. Ia mengalahkan seluruh anak dengan nilai yang tinggi. Shefa juga ikut go Internasional. Ia juara 1! Shefa. sudah mengelilingi Indonesia dan dunia. Ia mengunjungi negara Belgia, Singapura, Malaysia, Hongkong, Jepang dan masih banyak lagi. Pada lomba di Paris, ia mendapat juara 4. Padahal, juara 1-3 dilombakan di India. Sebenarnya, Shefa belum pernah mengunjungi India. Tapi tak apalah, ia juga sudah mengelilingi dunia. Shefa juga dibuatkan buku paspor lho!. Shefa telah mengharumkan nama Indonesia. Shefa terkenal di Indonesia, Hongkong, dan masih banyak lagi.
Lusanya, Di sekolah.
Jam Istirahat.
Shefa membaca buku KKPK sambil memakan bekal yang ia bawa dari rumah. Cherry dan Rasty menghampiri Shefa. “Shef, k..am…i m..int..a… ma…a…f” ujar Cherry gugup disambut anggukan kepala Rasty. “Tak apa kok! lagian juga, aku dah minta maaf ke kalian. Oh ya, lain kali, jangan ngejek orang begitu. Nanti Allah marah, lho sama kita karena mengejek ciptaannya, ok!” ujar dan nasihat Shefa. Cherry dan Rasty mengangguk. “Oh ya, soal taruhan itu, kita batalin aja, ya… soalnya, aku takut kamu kecapean” sambung Shefa. Cherry dan rasty terharu, karena mereka yang dulu mengejek dan menghina Shefa, tapi Shefa memaafkan mereka dan malah tidak mau mereka terlalu Lelah. Mereka bertiga berpelukan bersama. Sejak itu, mereka tidak sombong lagi, dan… Firda sudah memaafkan Cherry dan Rasty. Juga, mereka membuat grup sahabat yang namanya ‘Best Friend Indonesian’.

kerja sama penghuni meja majikan

Di suatu rumah tinggallah benda-benda. Mereka adalah Peng penghapus, lam lampu, kur kursi dan pen pensil.
Suatu hari…
“aku adalah benda paling berharga di rumah ini” sombong pen pensil.
“cih, semua benda di rumah ini berharga loh, aku juga” bantah kur kursi.
“sudahlah kalian jangan berantem, si peng penghapus lagi tidur” lam lampu berbisik
Suatu hari
“teman-teman ada berita gawat. Nona majikan sedang menulis surat ancaman kepada temannya” bisik pen pensil
“haaahhh!” teriak seluruh penghuni kamar nona majikan
“teman-teman ayo!” perintah kapten, lam lampu
“ayo!!!”
Seluruh penghuni meja membantu, lam lampu menerangkan pencahayaan, peng penghapus menghapus tulisan ancaman, pen pensil menulis tulisan baru
“selesai!”
Esoknya
Pada pagi hari nona majikan langsung memasukan kertas ke dalam surat tanpa membacanya kembali.
Kerjasama membuat keceriaan kembali…

jendela kesayangan

Cuaca malam ini begitu tak mendukung. Bukan lagi gerimis, derasnya hujan disertai suara dari cahaya-cahaya yang menghiasi langit malam begitu menggelegar, membuat tubuh semakin gemetar. Sayup-sayup terdengar suara hentakan kaki mementalkan air-air cantik itu ke atas dan kembali ke bawah. Berulang kali, dan berulang kali hingga kaki itu berhenti bekerja tepat di depan sebuah jendela samping rumah yang tak begitu besar dengan berbalut cat putih. Ia menghela nafas sejenak, melihat suasana malam yang masih diselimuti hujan dengan suara petir yang juga masih menggelegar. Tampaknya, hari sudah begitu larut malam. Tapi entahlah, mengapa si gadis itu masih keluyuran.
Kedua tangannya mulai membuka jendela itu yang ternyata tak terkunci. Ia menyelinap masuk, seperti maling saja. Ditutupnya kembali rapat-rapat jendela itu. Membuka lemari, mengambil handuk putih untuk mengeringkan tubuhnya yang basah diguyur air hujan. Belum selesai, suara langkah kaki itu mengagetkannya. Tampaknya, suara tersebut menuju kamar si gadis itu yang diketahui memiliki nama Farin Rismarini. Sontak ia terkejut, langsung melemparkan kembali handuk putih itu ke dalam lemari, lalu menutupnya. Tak peduli tubuhnya yang masih basah, ia langsung loncat ke atas kasur empuk berbalut seprai putih bersih dengan warna selimut yang senada. Menarik selimut tebal dengan cepat, memejamkan mata dalam sekejap.
Greeekkk.. Pintu kamar mulai terbuka. Rupanya, ibu Farin. Senyum khas terpancarkan dari wajah ibu Farin melihat anaknya yang padahal hanya pura-pura tertidur.
“Syukurlah, Farin tidak keluyuran malam ini.” ujar ibu Farin yang kemudian menutup pintu itu lalu pergi. Mendengar pintu kembali tertutup, Farin membuka matanya, menghela nafas lega.
Malam yang berbeda. Lagi dan lagi Farin mengendap-endap dari depan rumah sampai ke jendela kesayangannya. Entahlah, sejak kapan jendela itu menjadi jendela favoritnya untuk masuk ke dalam rumah. Yang jelas, ini bukanlah kali kedua ia melakukan hal yang sama. Mata mengawasi sekitar. Tampaknya sepi. Maklumlah, waktu telah menunjukkan pukul 01.00 malam. Ia menyelinap masuk ke dalam rumah melalui jendela kesayangannya. Suasana begitu gelap. Rasanya, Farin tak mematikan lampu sebelum ia pergi. Ada yang aneh, fikirnya.
Byaarrr!!! Farin terkejut. Tiba-tiba lampu menyala. Suasana berubah menjadi tegang seketika. Tak sedikitpun senyum tampak dari wajah ibu Farin yang saat ini tengah berdiri di samping sakelar kamar Farin yang berwarna putih. Perlahan, ibu Farin melangkah menuju anaknya. Farin hanya bisa terdiam, terbujur kaku dengan memasang wajah ketakutan. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ibu Farin menjewer telinga kiri Farin. Farin tampak begitu kesakitan.
“Aduh ibu, sakit..!!”.
“Ini akibatnya kalau kamu enggak mau nurut apa kata ibu. Ibu kan sudah bilang, jangan keluyuran malam-malam! Kamu anak perempuan. Mulai besok, ibu enggak akan kasih kamu uang sedikitpun.”.
“Apa bu??!!!” Farin terkejut mendengar pernyataan ibunya.

guci ajaib

Halo, namaku Rio. Sekarang aku kelas V B, dan hobiku adalah makan. Teman-temanku kadang memanggilku si gendut, tukang makan, dan lain lain. Tetapi aku tidak marah, aku malah mengatakan “gua emang gendut, terima kasih.” Jadi saat aku pulang ke rumah, di jalan aku ketemu orangtua, aku merasa kasihan, lalu kata dia “Dik, kalau kamu bisa mengambilkan apel itu kakek akan memberikan kamu hadiah.”
Karena aku sangat senang langsung aku mencari apel dan memberikannya kepada kakek itu, dan kakek itu berkata “Terimakasih ya dik, sekarang kamu bisa mengambil hadiahnya di belakang kakek.” Lalu kakek itu menghilang. “Kemana ya kakek itu, kok tiba-tiba kakek itu menghilang, apa kakek itu sakti?” Lalu aku pun mengambil hadiahnya, dan hadiahnya adalah… Sebuah guci.
Lalu, saat aku sampai di rumah aku memberitahu ibu “Ibu, lihat aku dapat sebuah guci.” “Wah… Kalau begitu ibu bisa menyimpan makanan disini.” Lalu, ibu mengambil guci itu “Ibu, tunggu gucinya mau dibawa kemana?” tanyaku.
Lalu aku mandi, dan langsung belajar. Lalu saat subuh-subuh aku bangun dan langsung ke kamar ibu, lalu aku menemukan gucinya. Lalu, seingatku ibu memasukkan telur, beras, tepung dan chocochips.
Saat aku mengeluarkannya tiba-tiba yang keluar adalah telur rebus, nasi, dan biskuit chocochips. Aku sangat bingung, lalu aku langsung melahap semua makanan itu.
Lalu, pagi-paginya ibu bangun, terkejut dan langsung berteriak “Rio… Kemana semua makanan yang ibu simpan…??!!” Aku pun langsung menjawab “Aku makan bu, dan ternyata guci itu ajaib” “Ajaib?!! Kamu jangan mencoba berlari dari kesalahan!” Teriak ibu. “Aku serius bu, coba saja masukkan telur mentahnya ke dalam gucinya.”
Ibu pun langsung memasukkan telur ke dalam guci itu, dan tiba-tiba saat ibu mengeluarkan telurnya… ZING ITS MAGIC, telur itu berubah menjadi telur rebus, “Oke, bukan berarti jika kamu lapar kamu mengambil makanan, dan langsung memasukkan makanan itu ke dalam guci bukan?” Tanya ibu. Aku pun diam, aku tidak bisa menjawab. Tiba-tiba jam sudah menunjukkan pukul 06:15, “Ya ampun aku sudah terlambat.” Gumamku.

teori vs praktek

Hai namaku Cattleya Sezu, aku anak paling suka sama pelajaran IPA, tapi aku lebih suka bagian praktek, kataku aku lebih suka sama IPA bagian praktek karena menurut aku itu lebih mengasyikkan daripada teori hanya diam mendengarkan, lebih seru juga praktek jalan mondar mandir ngambil ramuan, bereksperimen.
Huh aku tuh paling malas kalau ada guru bilang “kali ini kita belajar IPA di kelas alias teori” kesel banget kalau udah ngedenger kata kata itu.
Aku juga punya sahabat loh namanya Starletta Loudius, sangat susah ya membaca namanya, Letta sangat berbeda denganku dia lebih suka dengan teori, huh menyebalkan, sampai suatu hari Letta bilang begini “heh Leya kamu itu kan pencinta IPA kamu harus suka dong sama teori tanpa teori kamu gak akan bisa praktek denger tuh kata kataku ley”
“huh udah gak usah mikirin itu lagi mending ke kantin dulu cacing cacing udah pada siap siap di meja makan tuh”
“yuk…”
Kami pun pergi ke kantin, sampai di sana aku langsung membeli bubur ayam spesial dan es teh manis “nih dek makanannya” kata mbak yulia, koki di sekolah ku
“jadi berapa?”
“jadi Rp6.500”
“nih uangnya mbak yulia” Aku pun makan sampai habis.
Kali ini IPA kata pak Hendra praktek huray… Aku dan teman teman pun menuju laboratorium tapi terlebih dahulu Pak Hendra menjelaskan sedikit cara untuk membuat eksperimen ini lalu baru kita ke lab.
Pada saat aku berjalan ada yang menarikku dari samping, ternyata itu Letta, “aduh Letta ngapain sih tarik tarik”
“eh kamu ya yang maksa maksa Pak Hendra buat praktek sekarang?”
“enggak kok ngapain aku maksa maksa Pak Hendra”
“awas kalau bohong huh sana!!!”
Ternyata dia sudah dendam dari kemarin, aku pun langsung lari ke lab, disana aku disuruh membuat gunung merapi, pada saat mau mengambil cairan aku tidak sengaja menumpahkannya pada Letta “aduh Let maaf aku gak sengaja”
“Leya kamu bilang aja kali kamu mau balas dendam kan???”
“enggak kok Let” dia pun menangis sambil lari menuju toilet, aku mengejarnya sampai di toilet, dia menangis tersedu sedu “Let sudahlah maafkan aku, aku tidak bermaksud menumpahkan cairan itu dan aku menyesal aku sudah mengerti maksudmu apa kok Let, aku juga tanpa teori praktek tidak sempurna, tapi tanpa praktek teori pun tidak sempurna” tiba tiba dia mengerlingkan mata lalu kami berteriak “Teori VS Praktek yes… yes… yes…”